Scroll untuk melanjutkan membaca

Mengalir di Bawah Bayang-Bayang Tembesi: Sebuah Tinjauan atas Buku Membeli Cahaya

Sampul buku biografi Membeli Cahaya Memoar Datuk Pasal dari Sungai Tembesi karya Dessy Rizki.

By Alexander Mering*)

Membaca karya biografi acap kali terasa seperti menelusuri lorong arsip yang sunyi dan berdebu. Namun melalui buku Membeli Cahaya: Memoar Datuk Pasal dari Sungai Tembesi, Dessy Rizki menyuguhkan sesuatu yang jauh lebih bernyawa dan bergemuruh. Buku ini tidak sekadar merangkum deretan angka tahun atau menggambar silsilah keluarga yang kaku. Karya ini hadir sebagai sebuah epos kedaerahan yang terus berdenyut, merekam lanskap batin seorang manusia hulu yang berani menantang arus tradisi demi menyalakan sebentuk pelita pendidikan bagi generasinya. Penulis berhasil meracik kepingan ingatan kolektif kerabatnya menjadi narasi sastrawi yang memikat, membawa kita menyelami sejarah masyarakat Jambi mulai dari zaman perahu lanting hingga aspal jalan raya.

Batang Tembesi adalah saksi bisu bagi sirkulasi peradaban masa lampau. Penulis dengan cerdas mengaitkan riwayat personal kakeknya dengan lintasan sejarah raya yang pernah membelah sungai tersebut, merujuk pada masa ketika kapal besar peninggalan Belanda bernama Ophelia karam di perairan itu pada awal tahun sembilan belas tiga puluhan. Tragedi tenggelamnya nyonya residen Belanda tersebut berujung pada pembangunan jembatan Beatrix Brug yang menelan keringat para pekerja paksa di era kolonial. Sungai tersebut juga menyimpan dengung masa silam tentang rute pelayaran kuno Mo-lo-yu pada abad ketujuh. Di atas air bersejarah inilah, Datuk Pasaluddin kecil menempuh masa kanak-kanaknya dengan menyelam dan berkecipak di pangkalan Kampung Baru.

Inti paling emosional dari memoar ini justru terletak pada sebuah pergulatan moral yang amat memilukan di daratan. Datuk Pasaluddin digambarkan sebagai sosok paradoksal yang terjepit di antara kepatuhan tradisi dan visi masa depan yang benderang. Di kampung halamannya, memelihara ternak kerbau adalah simbol supremasi dan kekayaan Mak Iyah yang menandakan kejayaan sebuah keluarga. Akan tetapi, Pasaluddin memiliki mata batin yang tajam untuk menyadari bahwa deretan kerbau itu tidak akan pernah mampu mengusir kegelapan kebodohan yang menyelimuti adik-adiknya, Buyung dan Saman.

Launching buku Membeli cahaya karya Dessy Rizki

Keputusannya untuk menjual kerbau kesayangan sang ibu secara diam-diam merupakan puncak ketegangan dramatis dalam keseluruhan alur buku ini. Tindakan subversif tersebut seketika memicu kemarahan besar ibunya yang merasa dikhianati. Walaupun badai amarah menerpa, Pasaluddin menelan kepahitan itu sendirian dan terus memegang teguh sumpahnya di kandang kerbau pada suatu malam di bawah pendar bulan separuh. Ia mempertaruhkan kehormatannya di mata warga kampung untuk menukar ternak fana dengan pendidikan. Di titik inilah pembaca disadarkan bahwa ilmu sejatinya tidak pernah datang secara gratis.

Transisi peradaban kemudian menjadi kanvas raksasa yang melukiskan kebesaran visi ekonomi seorang Datuk Pasal. Pada babak awal kehidupan dewasanya, Pasaluddin adalah manusia sungai murni yang mengarungi pusaran arus liar. Ia membawa rakit bambu penuh muatan getah karet menuju Jambi dengan senantiasa bertaruh nyawa melawan keganasan alam dan ancaman perampok. Namun insting tajamnya mampu mencium arah angin perubahan ekonomi secara presisi. Ia menyadari sepenuhnya bahwa kejayaan jalur sungai akan segera usai dan digantikan oleh peradaban jalan darat. Momen epik terjadi ketika ia sukses membawa pulang sebuah mobil oplet Chevrolet LUV kuning Golkar ke Kampung Tinting. Raungan mesin mobil pertama di perkampungan pedalaman itu adalah proklamasi mutlak bahwa sebuah era modern telah mengetuk pintu rumah mereka.

Secara stilistika, kejelian penulis patut diacungi jempol dalam meramu siasat literatur. Penulis secara jujur mengakui bahwa usianya baru sekitar tiga tahun saat sang kakek berpulang. Kenangan tentang sang Datuk di kepalanya hanyalah bayang-bayang samar seorang lelaki tua berambut uban yang gemar duduk di pojok ruangan bersanding lemari kayu usang. Guna menutupi celah ingatan ini, penulis mengerahkan ketekunan riset lapangan yang ketat dan wawancara mendalam bersama Halimah atau Nino selaku istri almarhum serta kerabat sezaman. Proses rekonstruksi adegan tersebut membuat dialog dalam buku ini terasa begitu membumi. Pembaca dibuai oleh deskripsi otentik sehingga seolah bisa ikut mencium semerbak bau lumpur Batang Tembesi dan meraba tekstur kokoh kayu bulian pada rumah panggung Melayu.

Karya pelestarian sejarah ini pada akhirnya berdiri tegak laksana monumen abadi bagi sebuah pengorbanan. Perjuangan sunyi yang diawali dengan air mata di sebuah kandang kerbau reyot pada akhirnya diteruskan dengan gemilang oleh anak-anak dan adik-adiknya. Warisan terbesar Datuk Pasal pada hakikatnya bukanlah timbunan harta benda atau armada oplet kuningnya. Warisan sejatinya adalah penanaman nilai fundamental bahwa pendidikan merupakan satu-satunya bahtera yang sanggup menyelamatkan manusia dari pusaran kebodohan.

Karya yang sarat makna ini baru saja diluncurkan secara daring dengan kemasan sederhana oleh pihak penerbit dan penulisnya di Yogyakarta pada tanggal 17 Agustus 2026. Momentum peluncuran di hari kemerdekaan tersebut kian mempertegas posisi buku Membeli Cahaya: Memoar Datuk Pasal dari Sungai Tembesi sebagai sumbangsih literatur yang amat penting bagi kajian sejarah lokal Nusantara. Melalui racikan diksi puitis dan observasi sosiologis yang mendalam, Dessy Rizki sukses merawat ingatan bangsa tentang bagaimana sebuah komunitas kecil di pelosok rimba bersedia membayar mahal untuk masa depannya. Buku ini adalah cermin bening yang merefleksikan kegigihan manusia pedalaman yang rela berdarah-darah menerjang kelamnya arus zaman saat merangkak mencari terangnya sendiri.

*) Penulis adalah editor buku dan juga Founder & Strategic Narrative Architect  

Also Read
Tag:
Latest News
  • Mengalir di Bawah Bayang-Bayang Tembesi: Sebuah Tinjauan atas Buku Membeli Cahaya
  • Mengalir di Bawah Bayang-Bayang Tembesi: Sebuah Tinjauan atas Buku Membeli Cahaya
  • Mengalir di Bawah Bayang-Bayang Tembesi: Sebuah Tinjauan atas Buku Membeli Cahaya
  • Mengalir di Bawah Bayang-Bayang Tembesi: Sebuah Tinjauan atas Buku Membeli Cahaya
  • Mengalir di Bawah Bayang-Bayang Tembesi: Sebuah Tinjauan atas Buku Membeli Cahaya
  • Mengalir di Bawah Bayang-Bayang Tembesi: Sebuah Tinjauan atas Buku Membeli Cahaya
Post a Comment