Scroll untuk melanjutkan membaca

Hanya Orang Gila yang Bilang Negeri Ini Baik-Baik Saja: Monolog Satir yang Menampar Kewarasan Publik di Yogyakarta


Oleh: Dessy Rizki

Di tengah hiruk-pikuk optimisme resmi dan jargon-jargon pembangunan yang terus diulang, sebuah panggung teater di jantung Kota Yogyakarta justru memilih bersuara sebaliknya. Repertoar monolog berjudul Hanya Orang Gila yang Bilang Negeri Ini Baik-Baik Saja hadir sebagai ruang gugatan—sunyi, jujur, dan tanpa basa-basi—atas kondisi sosial-politik yang kerap dipoles agar tampak normal.

Pementasan ini digelar pada Rabu, 4 Februari 2025, di Gedung Militaire Societeit, Yogyakarta. Diproduksi melalui kolaborasi Ketika Teater Indonesia bersama Family Merdeka Production, Kelompok Sastra Pendapa, dan UKM Teater Sentir Universitas Mercu Buana Yogyakarta, monolog ini menjadi peristiwa artistik sekaligus pernyataan sikap.

Naskah dan penyutradaraan dipercayakan kepada Abror Y. Prabowo—penulis dan sutradara yang dikenal konsisten mengolah kegelisahan sosial menjadi bahasa panggung yang satir, pahit, namun menggugah. Dalam monolog ini, Abror tidak sedang berbicara tentang “orang gila” dalam pengertian medis. Yang ia sorot justru orang-orang yang mengaku waras, berkuasa, dan mengelola negeri, namun kehilangan keberanian moral untuk berpihak pada keadilan.

Melalui satu tubuh aktor di atas panggung, penonton diajak menyusuri lapisan demi lapisan ironi: dari praktik korupsi yang telanjang, penegakan hukum yang timpang, hingga kemiskinan yang seolah dibiarkan menjadi aset politik. Kritik disampaikan tanpa teriak, tetapi menghantam lewat bahasa yang sederhana, kadang puitis, sering kali getir.

Monolog ini bekerja dengan kekuatan minimalis. Tidak ada kemewahan artistik yang berlebihan. Yang ditonjolkan justru keintiman relasi antara aktor dan penonton. Suara, ritme kalimat, jeda, serta tatapan menjadi alat utama untuk membangun suasana reflektif. Penonton tidak diposisikan sebagai konsumen hiburan, melainkan sebagai saksi—bahkan mungkin sebagai bagian dari masalah yang sedang dipertanyakan.

Abror menyebut teater sebagai ruang publik alternatif, tempat kritik sosial bisa disampaikan dengan jujur tanpa kehilangan dimensi estetika. “Kadang yang disebut kegilaan justru menjadi cara paling waras untuk membaca keadaan,” ujarnya. Dalam konteks inilah, monolog ini menjadi semacam cermin: apakah yang selama ini dianggap normal benar-benar sehat bagi kehidupan bersama?

Pementasan ini juga menyentil fenomena pembungkaman. Mereka yang berani bertanya, berdiskusi, atau menyuarakan ketimpangan kerap dicap tidak waras, bahkan menghadapi intimidasi dan kekerasan. Sementara pelanggaran yang terang-benderang justru menguap tanpa kejelasan. Satir dalam monolog ini lahir dari kegelisahan yang akrab dirasakan banyak orang, tetapi jarang mendapatkan ruang artikulasi yang aman.

Salah satu kekuatan naskah ini terletak pada penggalan-penggalan monolog yang terasa dekat dengan pengalaman keseharian warga. Tentang kepercayaan pada hukum, pajak, pemilu, dan keadilan—yang perlahan runtuh ketika realitas menunjukkan wajah sebaliknya. Pertanyaan-pertanyaan sederhana justru menjadi senjata paling tajam: mengapa pencuri kecil dihukum lebih berat daripada perampok uang rakyat? Ke mana perginya kasus-kasus besar yang sempat memenuhi halaman media?

Dari sisi produksi, Fian Khairil Mizan sebagai pimpinan produksi menegaskan pentingnya kerja kolektif lintas komunitas dan generasi. Keterlibatan mahasiswa dalam produksi ini bukan sekadar teknis, melainkan upaya menumbuhkan energi baru bagi ekosistem teater di Yogyakarta. Teater, dalam pandangannya, masih relevan sebagai ruang aspirasi ketika saluran formal kerap buntu atau terlalu mesra dengan kekuasaan.

Tak berhenti sebagai tontonan, repertoar ini dirancang sebagai pemantik percakapan. Penonton diharapkan pulang dengan kegelisahan yang produktif—bukan jawaban instan, melainkan dorongan untuk berpikir, berdialog, dan mengambil tanggung jawab sosial.

Di tengah iklim publik yang sering menuntut kepatuhan dan kepura-puraan, Hanya Orang Gila yang Bilang Negeri Ini Baik-Baik Saja memilih berdiri di sisi yang tidak nyaman. Panggung menjadi ruang untuk mempertanyakan kewarasan kolektif, sekaligus mengingatkan bahwa kejujuran—betapapun pahit—masih memiliki tempat dalam seni dan kehidupan bersama.

Dan mungkin, justru di sanalah teater menemukan kembali fungsinya yang paling purba: bukan untuk menenangkan, melainkan untuk mengusik.
Also Read
Tag:
Latest News
  • Hanya Orang Gila yang Bilang Negeri Ini Baik-Baik Saja: Monolog Satir yang Menampar Kewarasan Publik di Yogyakarta
  • Hanya Orang Gila yang Bilang Negeri Ini Baik-Baik Saja: Monolog Satir yang Menampar Kewarasan Publik di Yogyakarta
  • Hanya Orang Gila yang Bilang Negeri Ini Baik-Baik Saja: Monolog Satir yang Menampar Kewarasan Publik di Yogyakarta
  • Hanya Orang Gila yang Bilang Negeri Ini Baik-Baik Saja: Monolog Satir yang Menampar Kewarasan Publik di Yogyakarta
  • Hanya Orang Gila yang Bilang Negeri Ini Baik-Baik Saja: Monolog Satir yang Menampar Kewarasan Publik di Yogyakarta
  • Hanya Orang Gila yang Bilang Negeri Ini Baik-Baik Saja: Monolog Satir yang Menampar Kewarasan Publik di Yogyakarta
Post a Comment
Tutup Iklan