Scroll untuk melanjutkan membaca

Republik Kelamin: Libido Hibrida di Negeri Munafik


Oleh: Dessy Rizki*)

Tidak semua puisi ingin dibaca dengan tenang. Sebagian lahir untuk mengacaukan tidur, merusak kenyamanan, dan memaksa kita bercermin tanpa lampu. Hybrid poetry book—Republik Kelamin—karya Wisnu Pamungkas berada di wilayah itu: buku puisi yang tidak sopan pada ketidakadilan, tidak ramah pada kekuasaan yang berlebihan, dan sengaja menelanjangi kemunafikan sebuah republik.

Sejak halaman awal, buku ini sudah menolak basa-basi. Prolog Jaya Ramba, salah seorang sastrawan terkemuka dari Sarawak, Malaysia, membuka pintu dengan darah, bukan beludru. Ia menempatkan Republik Kelamin sebagai tubuh yang bernyawa, puisi yang tidak ingin sekadar dimengerti, tetapi dialami, bahkan dilukai kembali. Dalam pembacaan Ramba, Wisnu menulis dari ranjang sejarah: tempat cinta, revolusi, dosa, dan kuasa saling bertubrukan tanpa malu. Prolog ini penting karena memberi kerangka: pembaca sedang memasuki wilayah sastra yang sadar bahwa tubuh adalah arsip paling jujur dari politik.

Republik-Porno
Penampakan salah satu halaman isi buku Republik Kelamin. Scane QR sebelum judul, Anda akan menikmati lagunya yang dahsyat. Dok

Secara estetik, Republik Kelamin bergerak dalam jalur puisi hibrida—sebuah kecenderungan sastra kontemporer yang menolak kemurnian medium. Wisnu tidak puas dengan teks. Puisi-puisinya bersekutu dengan musik cadas, distorsi gitar, growl, dan dentuman drum yang diakses lewat kode QR. Di sini, puisi tidak lagi berhenti di halaman, tetapi menjalar ke telinga dan dada. Jika kita mengingat gagasan puisi bergerak Sapardi Djoko Damono—yang pernah menurunkan puisi ke spakbor becak—maka Wisnu melangkah lebih jauh: ia membawa puisi masuk ke ruang digital dan sonik, tanpa kehilangan muatan kritiknya.

Seorang penulis, perupa dan praktisi desain komunikasi visual, Rudi Winarso membaca buku ini sebagai bentuk sastra terlibat, menggemakan pemikiran Jean-Paul Sartre bahwa sastra tidak pernah netral. Dalam tradisi ini, Wisnu sebaris dengan Arief Budiman dan Ariel Heryanto yang menolak estetika sebagai pelarian. Namun yang membuat Republik Kelamin berbeda adalah pilihan simbolnya: kelamin. Kata ini bukan gimmick. Kelamin adalah metafora paling dasar tentang kontrol, stigma, dan kekuasaan. Ketika Wisnu menyebut “republik”, ia sedang bertanya: siapa yang mengatur tubuh, hasrat, dan rasa malu kita?

Dalam beberapa sajak, hubungan ayah–ibu dijadikan miniatur negara. Rumah tangga berubah menjadi medan kuasa, ranjang menjadi parlemen sunyi, dan tubuh menjadi wilayah yang diperebutkan. Pendekatan ini mengingatkan pada keberanian Chairil Anwar yang menurunkan nasionalisme ke suara personal, atau pada Babad Diponegoro yang menelanjangi kekuasaan lewat pengalaman subyektif. Namun Wisnu bekerja dengan bahasa zaman ini: bahasa yang sadar media, sadar algoritma, dan sadar bahwa kemarahan hari ini sering kali diproduksi, dikemas, lalu dijual kembali.

Endorsment dari para sastrawan dan pengamat budaya menegaskan posisi buku ini sebagai anomali yang sehat. Ada yang menyebutnya manifesto kegelisahan, ada yang menekankan keberaniannya menelanjangi mitos kebangsaan, ada pula yang memuji integrasi teks dan musik sebagai terobosan sastra Indonesia kontemporer. Semua sepakat pada satu hal: Republik Kelamin bukan buku untuk ditelan pelan-pelan. Ia menuntut sikap.

Namun, di balik keras dan cabul secara politik, buku ini tidak kehilangan kedalaman liris. Ada puisi-puisi tentang ayah, ibu, kehilangan tanah, dan ingatan masa kecil yang bergerak lirih. Di sinilah Wisnu menghindari jebakan pamflet. Kemarahan dalam buku ini bukan teriakan kosong, melainkan amarah yang—meminjam istilah Abizai dalam epilog, Sastrawan Negeri Sarawak ke-5 —dikawal oleh ironi, imejan tajam, dan kesadaran estetik. Epilog Abizai menegaskan bahwa kemarahan dalam Republik Kelamin berfungsi sebagai renungan, bukan sekadar jeritan.

Dari sudut teoritis, Republik Kelamin bisa dibaca sebagai perlawanan terhadap estetika kenyamanan—kecenderungan sastra yang memilih aman demi diterima. Wisnu justru memilih risiko: risiko ditolak, disalahpahami, bahkan dituduh cabul. Tetapi sejarah sastra menunjukkan bahwa karya yang bertahan sering kali lahir dari wilayah berbahaya. Serat Centhini, misalnya, dulu dianggap terlalu berani membicarakan tubuh dan hasrat, namun kini dibaca sebagai ensiklopedia kebudayaan Jawa. Risiko hari ini bisa menjadi kanon esok hari.

Pada akhirnya, Republik Kelamin adalah buku puisi yang relevan untuk zaman ketika bahasa politik kehilangan makna dan doa berubah menjadi transaksi. Wisnu Pamungkas menulis bukan untuk menenangkan, melainkan untuk membangunkan. Ia menggunakan puisi sebagai belati—tajam, jujur, dan tak meminta izin. Buku ini tidak menawarkan solusi, tetapi mengingatkan bahwa sebelum solusi, kita perlu keberanian untuk mengakui luka.

Bagi pembaca yang mencari sastra yang rapi dan jinak, Republik Kelamin mungkin terasa berlebihan. Namun bagi mereka yang percaya bahwa puisi masih bisa berbahaya, masih bisa menyalak, buku ini adalah pengingat penting: bahasa belum mati, tubuh masih berbicara, dan sastra belum sepenuhnya menyerah pada kenyamanan.

Karena menggunakan metafora yang vulgar dan keras, buku ini hanya ditujukan kepada para pembaca dewasa saja 18+ dan hanya bisa diperoleh langsung dari agen resminya anyarmart.com

*) Penulis, Editor buku Republik Kelamin

Also Read
Tag:
Latest News
  • Republik Kelamin: Libido Hibrida di Negeri Munafik
  • Republik Kelamin: Libido Hibrida di Negeri Munafik
  • Republik Kelamin: Libido Hibrida di Negeri Munafik
  • Republik Kelamin: Libido Hibrida di Negeri Munafik
  • Republik Kelamin: Libido Hibrida di Negeri Munafik
  • Republik Kelamin: Libido Hibrida di Negeri Munafik
Post a Comment
Tutup Iklan