Oleh: Alexander Mering
PONTIANAK-Pagi itu gerimis turun tipis di Pontianak. Saya duduk di sudut sebuah warung kopi lama di Jalan Merapi. Secangkir kopi saring panas sudah tersaji, ditemani pisang goreng srikaya.
Di meja sebelah, seorang mantan loper koran tampak gelisah sejak tadi. Kakinya terus bergoyang. Tangannya bolak-balik meraba saku kemeja, lalu meja, lalu saku celana. Wajahnya kusut, seperti tempoyak yang sudah rusak.
Belakangan saya tahu, dia sedang mencoba berhenti merokok. Pantas saja sejak tadi tidak terdengar kalimat khas anak Pontianak: “rokok lok.” Hari itu adalah hari pertamanya melawan sesuatu yang terasa seperti kiamat kecil di dalam kepala.
Melihatnya, saya tersenyum sendiri. Ironis memang. Kita sering merasa paling kuat: takut hantu kita lawan, takut miskin kita terjang. Tapi ketika diminta berpisah dari sebatang rokok sepanjang sembilan sentimeter, rasanya seperti separuh nyawa ikut terangkat. Kepala pening, jantung berdebar aneh, dan hal-hal sepele pun bisa memicu emosi.
Kenapa rasanya sesakit itu?
Setiap kali asap rokok diisap, nikotin melesat ke otak dalam waktu sekitar tujuh detik. Ia langsung menyerang bagian bernama nucleus accumbens, pusat kendali rasa senang. Di sana, nikotin memicu pelepasan dopamin, hormon yang membuat kita merasa tenang, nyaman, bahkan seolah masalah hidup mendadak ringan.
Masalahnya, otak kita tidak bodoh. Jika terus-menerus disuplai “kebahagiaan instan,” ia akan mengurangi produksi dopamin alami. Akibatnya, kita jadi bergantung pada nikotin hanya untuk merasa normal.
Nikotin bekerja seperti lintah darat. Awalnya memberi “pinjaman” rasa enak. Lama-lama, bunganya mencekik. Kita butuh lebih banyak isapan untuk mendapatkan efek yang sama. Jantung pun dipaksa bekerja lebih keras karena nikotin terus memacu adrenalin.
Tubuh langsung kacau.
Dalam 24 jam pertama, kadar nikotin dalam darah turun drastis hingga habis. Di fase ini, tubuh seperti membunyikan alarm darurat. Hormon stres (kortisol) melonjak, sementara dopamin anjlok. Akibatnya, emosi jadi tidak stabil. Hal kecil bisa memicu kemarahan. Ini bukan drama, tapi reaksi kimia murni: tubuh sedang “sakau”.
Masuk hari kedua dan ketiga, gejalanya makin berat. Pikiran terasa berkabut (brain fog). Konsentrasi buyar. Diajak bicara A, nyambungnya ke mana-mana.
Malam hari, tubuh sudah lelah, tapi mata sulit terpejam. Insomnia datang. Mata tertutup, tapi otak seperti terus aktif tanpa henti.
Namun, jangan menyerah dulu.
Jika berhasil melewati minggu pertama yang berat itu, perlahan tubuh mulai pulih. Indra penciuman dan perasa yang selama ini tumpul mulai kembali hidup. Rasa makanan jadi lebih jelas. Bau-bau di sekitar terasa lebih tajam.
Di dalam paru-paru, silia (bulu halus yang bertugas membersihkan kotoran) mulai bekerja kembali. Mereka menyapu lendir dan sisa racun keluar. Karena itu, batuk berdahak setelah berhenti merokok bukan tanda penyakit, melainkan proses pembersihan.
Karena itulah, berhenti merokok tidak cukup dengan nekat saja. Perlu strategi.
Pertama, perbanyak minum air putih untuk membantu tubuh
mengeluarkan sisa nikotin.
Kedua, ubah pola kebiasaan. Dalam psikologi, kebiasaan terdiri dari pemicu, rutinitas, dan hadiah. Kopi pagi mungkin tetap jadi pemicu, tapi rutinitasnya bisa diganti. Misalnya dengan menarik napas dalam atau berjalan kaki agar tubuh memproduksi dopamin alami.
Kabar baiknya, tubuh manusia sangat pemaaf. Dalam waktu
satu tahun setelah berhenti merokok, risiko serangan jantung bisa turun hingga
50 persen.
Pada akhirnya, keputusan itu ada di tangan kita, bukan di tangan industri rokok.


